“Revolusi Bantal” Meneropong Indonesia dari Sudut Milenial
|
Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tinggal menghitung hari. Seperti biasanya, Euforia masyarakat terhadap kemerdekaan terbilang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya nuansa berbeda setiap mendekati HUT RI. Di setiap sudut jalan ataupun gang selalu ada hiasan seputar kemerdekaan. Mulai dari banyaknya bendera, perlombaan, pernak pernik yang di pasang baik di jalan-jalan ataupun di rumah bahkan di kantor kepemerintahan sudah menjadi barang wajib, sampai yang lebih sakral lagi adanya Upacara Bendera.
Namun, dibalik segala Euforia tersebut, generasi muda harus lebih dapat memahami makna dan tujuan dari kemerdekaan ini sehingga dapat terus merawat dan mempertahankan bentuk kemerdekaan yang telah dicapai oleh para pendahulu. Bukan hanya semata-mata terjebak dalam Euforia yang biasanya terjadi. Dengan segala kejadian yang ada perlu rasanya di kembangkan kembali gagasan serta makna kebangsaan serta makna Nasionalisme dikalangan masyarakat, terkhusus dikalangan generasi muda penerus bangsa.
Merdeka! Merdeka! Merdeka! Layaknya kebanyakan dari para mahasiswa menyuarakan dengan lantang kata “Merdeka!”. Apakah kata “Merdeka!” merupakan akhir dari sebuah perjuangan? Tentu tidak! Di balik kata merdeka tersirat makna bahwa perjuangan ini terus berjalan seiring dengan perkembangan zaman!
Perjuangan para pahlawan untuk bisa memerdekakan bangsa ini tentu tidak bisa dianggap remeh. Keringat, tenaga, rasa sakit hingga nyawa jadi pertaruhan mereka demi bangsa yang sama-sama kita cintai ini. Perlu dicatat, sebagai generasi muda saat ini kita tidak bisa duduk santai memainkan Gadged dengan asyiknya menyuarakan kemerdekaan dan nasionalisme di medsos semata. Harus ada gerakan pembaharu sebagai Upgrading dan merefleksi makna dari kemerdekaan serta Harokah demi menentukan arah dan masa depan bangsa ini!
Sangat disayangkan, seiring perkembangan zaman saat ini banyak masuk faham Import ke Indonesia. Dibawa dari luar melalui organisasi pengasong Ideologi baru dan bentuk baru dari Negara yang sudah susah payah diperjuangkan oleh para pahlawan.
Jemmy Setiawan, dalam bukunya Nasionalisme Retorika Gombal meneropong Indonesia dari sudut orang muda menyatakan “Atas nama Reformasi, rakyat Indonesia merasakan kebebasan untuk berorganisasi dan menyuarakan aspirasinya. Merhargai jasa pahlawan bukan sekedar kata-kata gombal penuh retorika. Mengisi kemerdekaan tidak cukup hanya merakayakannya. Karya nyata adalah pembuktian dalam rangka mengisi kemerdekaan”
Senada dengan pendapat Jemmy Setiawan dalam bukunya, perlu ditekankan bahwa menghargai jasa pahlawan bukan hanya sekedar gombalan semata. Berorganisasi tentu lebih relevan jika dipergunakan untuk bergerak membangun bangsa demi terwujudnya masa depan yang baik lagi. Perjuangan tidak melulu di Manifestasikan dalam bentuk perjuangan fisik, tapi dalam karya nyata dalam bentuk pembangunan dalam mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan dibutuhkan inovasi. Karya nyata untuk menyelesaikan berbagai masalah dengan lebih memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Seperti kata-kata mutiara dalam bahasa Arab yang berbunyi “Al-Ittihadu Asaasun Najah yang artinya Persatuan itu Pangkal Keberhasilan” memetik hikmah dari Persatuan itu pangkal keberhasilan maka sudah barang wajib tentunya kita selaku generasi muda dapat memahami betul Visi Misi dari kemerdekaan.
Sehingga dapat menciptakan tujuan yang sama dalam memajukan bangsa. Sampai akhirnya dapat disadari bahwa kita ini berbangsa satu, bangsa Indonesia dan menjunjung persatuan Indonesia terlepas dari segala kepentingan yang ada, harus terus di sadari bahwa tujuan kita adalah sama-sama membangun bangsa untuk lebih kuat karena persatuan demi menunaikan sila ke-3 “Persatuan Indonesia”.
Presiden Joko Widodo sempat menyuarakan jargon Revolusi Mental untuk memperkuat Sumber Daya Manusia. Dengan melakukan gerakan Revolusi Mental yang akan menggembleng mental dan prinsip masyarakat, Pak Jokowi lebih menanamkan rasa disiplin, semangat dan kemauan untuk bekerja demi tercapainya manusia baru di Indonesia. Namun, ada yang perlu dilakukan sebelum menjalani gerakan Revolusi Mental tersebut. Saya menamakannya dengan “Revolusi Bantal” yang mana harus kita pahami bahwa kita selaku generasi muda harus berupaya melakukan Revolusi terhadap bantal yang selalu asyik menjadi pelukan dan sandaran hangat sebagai barang wajib untuk manusia modern tidur dan bermimpi. Ya, bermimpi untuk dapat menciptakan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara yang Madani.
Generasi Muda saat ini wajib untuk bangkit dan melakukan gerakan perubahan untuk kemaslahatan Bangsa! Bukan hanya bermimpi menjadikan Negara ini Maju dan Merdeka secara hakiki.
Bergeraklah wahai Generasi Muda! Songsong dan raih masa depan bangsa dengan penuh semangat layaknya para pahlawan yang susah payah memerdekakan bangsa ini. Bersemilah wahai generasi muda negeri! Wujudkan mimpi dan buat para pahlawan serta pendiri bangsa tersenyum, seraya meneriakan kata Merdeka! Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Ditulis oleh Fatwa Banu Alkaf
Pada hari Jum'at tanggal 16 Agustus 2019 10:00 WIB
Editor : mm